Jakarta,canangdot.com – Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono setelah meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Mulia 3, Gandaria, Jakarta, 6 November 2025. Tempo/Dinda Shabrina
Perbesar
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono setelah meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Mulia 3, Gandaria, Jakarta, 6 November 2025. Tempo/Dinda Shabrina
WAKIL Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, pemerintah akan menerapkan strategi aksi nasional 90-75-90 guna mengeliminasi jumlah perempuan Indonesia yang terinfeksi Human Papillomavirus (HPV), virus penyebab kanker servix.
“Ada sekitar 70 persen perempuan Indonesia yang terinfeksi dalam stadium lanjut, 50 persen diantaranya meninggal. Oleh karena itu, kami memfokuskan pertanggungjawabannya pada quote 90 -75-90,” ujar Dante Saksono Harbuwono di ruang GA Swabessy, Gedung Sujudi, Kementerian Kesehatan, Selasa (27/1/2026).
Skrining Kanker Serviks Ditambahkan dalam Program CKG
Skrining Kanker Serviks Ditambahkan dalam Program CKG
Adapun formasi tersebut, tambah Dante, merupakan peta jalan aksi nasional yang akan dilakukan pemerintah dalam mengeliminasi kanker servix di tahun 2030.
“Di mana 90 adalah persentase target imunisasi HPV yang harus diberikan kepada anak-anak di bawah 15 tahun, ” kata
Sementara 75, menurut Dante, adalah target screening yang harus dilakukan terhadap perempuan Indonesia berusia 30 hingga 65 tahun. Sedangkan 90 adalah target perempuan yang harus diobati apabila sudah teridentifikasi mengalami kanker akibat infeksi virus HPV.
“Jadi ini adalah kanker yang dapat diobati, apabila dapat terdeteksi lebih dini dan dapat dicegah karena sudah ada imunisasinya,” katanya.
Hingga saat ini pemerintah telah melakukan screening kanker serviks terhadap sekitar 600 ribu perempuan di seluruh Indonesia.
Rencananya, tahun ini pemerintah akan menyertakan pemeriksaan dini atau screening kanker serviks ke dalam paket cek Kesehatan gratis (CKG). Screening ini dilakukan melalui prosedur pemeriksaan laboratorium HPV DNA.
“Kami mendorong untuk dilakukan pemeriksaan mandiri oleh pasien di puskesmas. Selama ini kasusnya mereka merasa malu bila harus melepas pakaian dan naik ke meja pemeriksaan,” ujar Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadya Tarmizi.
Menurut Nadya, selama ini, pemeriksaan kanker leher rahim hanya dilakukan melalui prosedur pap smear atau prosedur screening medis berupa pengambilan dan pemeriksaan sampel sel dari leher rahim (serviks) di bawah mikroskop yang bertujuan mendeteksi dini perubahan sel pra-kanker atau kanker. Prosedur ini, menurut dia, tidak lagi relevan lantaran tak cukup akurat untuk menentukan sejauh mana sel HPV sudah menginfeksi.
“Sementara untuk HPV DNA itu tingkat validitas di atas 90 persen, invalidnya hanya 1,1 persen,” kata Nadya.
Menurut Kemenkes, prevalensi kanker serviks di Indonesia mencapai 16,3 persen dengan tingkat kematian mencapai 60 -70 persen. Lantaran itu, kanker serviks merupakan kanker pembunuh terbesar kedua di Indonesia, khususnya pada wanita. Padahal, tambah Nadya, kanker serviks merupakan kanker yang dapat dicegah melalui vaksinasi dan pemeriksaan dini.
Kendati dapat dicegah, kanker serviks kerap menginfeksi sekitar 36 ribu perempuan di Indonesia dan membunuh 21 ribu di antaranya. Fenomena ini menjadikan kanker serviks sebagai penyakit mematikan yang paling umum dialami perempuan Indonesia.
Tidak hanya itu, penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada wanita dengan rasio hampir 3 dari 5 wanita yang terdiagnosis meninggal dunia.
Kanker serviks disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV), terutama tipe 16 dan 18, yang ditularkan melalui kontak seksual. Infeksi tersebut menyebabkan perubahan DNA sel-sel leher rahim menjadi sel kanker. Faktor merokok, hubungan seksual di usia dini, berganti pasangan, dan sistem kekebalan tubuh lemah menjadi faktor resiko tambahan. (Red)

Belum ada komentar